Temanku Si Penjual Kue

24 Dec 2008

Teng…teng. ..teng…
Suara bel sekolah berbunyi nyaring sekali mirip bel
tinju ganti ronde. Aku siap-siap pulang.
Ah…senengnya udah pulang kayak gini. Semua
siswa-siswa SD Menanggal berhamburan keluar kelas
dengan kompaknya, mirip kuda-kuda balap yang melaju
kenceng pas pintu kandang dibuka, hehehehe. Sebelum
pulang aku ke kantin dulu.

“Bu Minah, kemaren aku liat ada anak perempuan
seusiaku jualan kue disini. Apa Bu Minah tahu siapa
anak itu ?”tanyaku sesampainya di kantin.
“Eh non Alma. Anak perempuan kemaren itu ya. Itu anak
saya paling kecil. Hari ini lagi jualan di rumah. Eh
non Alma belom kenal ya, maklum baru 3 hari dia
disini, sebelumnya kan ikut neneknya di desa.”jawab Bu
Minah panjang banget.
“Anak Ibu ? Kok Ibu nggak pernah cerita kalo punya
anak cewek ?”tanya Alma heran.
“Ya sejak kecil sudah ikut neneknya. Kalo non Alma mau
kenalan ke rumah Ibu aja sekarang. Pasti ada tuh.”
“Baiklah Bu Minah. Saya ke rumah ibu ya ?”Alma
beranjak dari kursi dan siap-siap jalan ke rumah Bu Minah.
Rumah Bu Minah deket ama sekolah. Masuk gang dan
sampailah sudah…
“Hai, ada kue apa aja nih ?”sapa Alma pada anak
perempuan itu.
“Aduh kaget aku. Macem-macem lah, ada lemper, ada
bikang, ada pukis, ada gorengan. Mau yang mana ?”jawab
anak perempuan itu.
“Ngomong-ngomong kamu yang kemaren jualan di kantin Bu
Minah ya ?”tanya Alma tanpa menjawab mau beli kue apa,
gitu lho.
“Bu Minah itu ibuku. Sejak ayah dan ibuku nggak bisa
lagi kirim uang buat sekolahku, aku kembali kesini dan
membantu jualan kue. Aku nggak ngelanjutin sekolah
lagi, biar mas aku aja karena dia kan kakak
laki-laki.Eh kok aku jadi nangis sih.”kata anak
perempuan itu sedih dan tak terasa meneteskan air
mata.
“Kasihan sekali kamu. Namamu siapa dan seharusnya kamu
kelas berapa ?”Alma tiba-tiba merasa iba.
“Aku Nina, seharusnya kelas 3 tapi nggak bisa sekolah
lagi. Dan seharusnya aku masih pengen sekolah
lagi.”Nina tiba-tiba terisak.
“Nina kamu jangan sedih aku mau kok jadi temenmu. Aku
Alma, kelas 3 juga.Ehm…aku beli lempernya ya.”Alma
mencomot lemper dan memeluk Nina yang masih terisak.
“Nina aku ikut sedih jika kamu nggak sekolah lagi.
Tapi aku ingin membantu kamu sebisaku ya. Ehm…gini
aja gimana kalo mulai besok kamu maen ke rumahku ya.
Kita belajar bareng gitu. Aku jadi guru kamu jadi
murid. Jadi walau kamu nggak sekolah tapi bisa tetep
belajar kan.”usul Alma sambil makan lemper dan menatap
Nina dengan mantap.
“Tapi Alma apa aku nggak ngerepotin kamu nih.”
“Ya nggak lah. Aku justru seneng punya teman di rumah.
Aku selalu sendirian seabis sekolah. Kamu mau kan jadi
temenku.”Alma tersenyum manis sekali. Ya itulah aku,
yang hanya bisa membantu anak yang hidupnya nggak
seberuntung aku dengan kemampuanku sendiri. Kemampuan
anak kecil yang masih SD. Tapi aku percaya ortuku
mengijinkan keputusanku ini. Yang penting Nina senang
dan Bu Minah, pengelola kantin sekolah yang ibunya
Nina juga akan merasa bangga sekali. Aku dan Nina
berpelukan,” Terima kasih Alma. Kamu baek sekali ama
aku.”

The End
original writing by Alma


TAGS nenek penjual kue teman sekolah


-

Author

Follow Me