Just Write It!!

20 Dec 2008

Ketika begitu banyak pikiran yang sedang berkecamuk di kepala kita, rasanya pingin memuntahkan semuanya saja biar tak terlalu memperberat memori yang ada. Saat ini aku lagi pengen menyelesaikan sebuah tulisan. Satu dulu aja, gpp. Aku pikir aku masih perlu menguji kekonsistenanku sendiri. U know lah, aku tuh seringnya pingin ngelakuin sesuatu yang semangat pas di awalnya doang. Nah…buat mempertahankan mood nulis itu yang masih syusah.

Tapi aku pernah baca komentarnya J.K Rowling (penulis buku Harry Potter) yang bilang kalo awal menulis bisa dimulai dari menuliskan pengalaman sendiri. Yah…aku pikir dengan menggunakan subjek aku memang akan lebih mengena. Tapi sebenernya gak hanya sebatas itu saja. Penggunaan subjek aku tanpa ada pengalaman konkret yang dialami penulis sendiri mungkin masih akan susah.Utamanya bagi penulis pemula (like me).

Sebenernya yang dikatakan pengalaman konkret, ya gak mesti setiap kita nulis kita mesti ngelaminnya dulu sih. Minimal untuk menguatkan tulisan kita, kan mesti ada bukti-bukti akuratnya. Yah, bisa jadi kita mengambil data melalui media. Meski harus tetap diakui bahwa menuliskan sesuatu dengan disertai pengalaman konkret akan lebih menguatkan tulisan.

Menurut Meier, salah satu tekhnik menulis adalah dengan menggunakan tekhnik SAVI. Somatik, Audio, Visual, dan Intelektual. Somatik tuh lebih menitik beratkan pada pergerakan. Dimana ketika kita membaca atau menulis, tak perlu membuat diri menjadi semakin jenuh sendiri dengan menenggelamkan diri dalam-dalam tanpa batas. Sesekali kita perlu memberikan jeda untuk melakukan kegiatan lain. Ya gak perlu kegiatan besar, cukup gerakan kecil saja. Misalnya , memutar-mutar leher or push up mungkin.
Trus kalo Audio lebih menekankan pada aspek pendengaran. Misalnya aja, ketika kita membaca dan ada kata-kata yang mungkin kita anggap sulit, maka sarannya adalah cobalah untuk membacanya keras-keras. Karna ketika kita membacanya keras-keras, maka otak otomatis akan ikut bekerja untuk mencernanya. Dan akan lebih bisa kita resapi karna yang kita bukan menghafal, tapi memahami.
Visual juga salah satu aspek pentingnya. Dimana mata sebagai indera yang cukup memberikan info penting buat kita disamping indera-indera yang lain. Di sini ditekankan bahwa membaca buku yang dilengkapi dengan gambar akan lebih memudahkan kita untuk memahaminya. Atau kalaupun tidak ada gambar, kita bisa menggunakan imajinai kita untuk membayangkannya.
Sedangkan intelektual, sudah pasti ini akan selalu kita gunakan. Sebenernya proporsinya tidak terlalu besar, karena intelektual bisa dipelajari. Yah…kalo pun ada intelektual bawaan semisal IQ tapi bukankah kemampuan manusia tak hanya itu saja. Banyak kekayaan intelektual yang lain.

Memang untuk membiasakan menulis itu sendiri sangat sulit. Ini termasuk aku alamin sendiri sih. Betapa menyisihkan waktu 15 menit sehari saja, masih harus membuat kompromi-kompromi lagi. yang banyak tugas lah, yang gak sempet lah, yang capek lah. Padahal sebenernya kebiasaan itu kitalah yang bisa membentuknya. Bukan kita dibentuk oleh kebiasaan. So…. mungkin dengan memulia bikin tulisan kecil di diary tiap hari juga salah satu solusi membiasakan kebiasaan menulis itu. Kata Bapak Hernowo penulis buku Mengikat Makna, tuliskan apapun yang kamu lihat, tak perlu khawatir itu hal yang simpel atau tidak berguna. Karna suatu saat nanti siapa tahu itu berguna. Belajar untuk konsisten dari hal-hal kecil .

Wahh….just write it ajalah pokoknya !!!!!

Ccchhhhaayyooooo!!!!!!!!!!!!!
Original by By: Aisyah


TAGS


-

Author

Follow Me